Entah kenapa aku mulai memikirkannya lagi, semakin sering hingga nyaris tak berjeda. Rasa itu telah kembali, meski aku yakin ia tidak pernah beranjak pergi. Hanya sedikit tenggelam untuk kemudian kembali datang.

Wahai Pemilik Hati, jadikanlah rasa ini abadi jika memang dia yang Engkau takdirkan berada di sisi. Namun jika kehendakmu berganti, izinkan aku menyimpan rasa ini sampai aku menemukan yang sejati.

Aku akan berusaha meletakkan rasa ini tetap pada tempatnya. Aku akan berusaha bersikap tenang walau keinginan menyapanya begitu menghujam. Aku akan berusaha menyimpan sambil menunggu rencana yang Kau siapkan.

Tuhan, aku hanya ingin menyimpan namanya dalam doa, terlepas nanti ia dapat kumiliki atau tidak. Saat waktunya tiba, aku bisa melepasnya dengan bahagia.

Tujuh Oktober, 2018

Hulya_adzkiya

Iklan

Ribut riuh ramai kurasa

Dalam kepalaku penuh sesak

Berebut mengingat segalamu

Aku tidak bisa beristirahat

Dari memikirkan tentangmu

Aku tidak bisa berhenti sejenak

Dari merinduimu

Rindu ini sungguh terlalu

Tak pernah mengenal tempat dan waktu

Bahkan di senyap malam

Hatiku ribut meneriakkan namamu

Enam Oktober, 2018

Aku, yang hangus oleh rindu

Kenang

Malam ini sayang, kenangan menghantamku tanpa belas kasihan

Pernahkah kau merasa demikian?

Seolah aku dihempas pada kejadian demi kejadian

Kepada siapa kasih

Aku harus mengadu segala sedih

Sedang dihadapanmu aku tersisih

Kali ini sayang

Biarkan aku pulang dalam pusaran kenangan

tempat yang kupikir paling nyaman

Sekali saja

Jangan halangi aku mampir

Bisa jadi ini yang terakhir

Dua September, 2018

Kamu dan Secangkir Kopi

Saat pagi menjelang, apa yang paling kau harapkan untuk datang? Seseorang yang rutin mengirim pesan “selamat pagi” atau cukup secangkir kopi

Bagiku secangkir kopi sudah cukup, meski kau tak lagi ada, tapi wangi kopi mewakili semuanya. Terasa sedang duduk bersama, meski sekarang hanya aku yang tersisa.

Kopi dan “selamat pagi” adalah hal yang paling aku nanti di pagi hari, meski yang kedua sudah tidak mungkin terjadi.

Kamu adalah canduku
Kopi adalah candu penggantimu
Seharusnya aku merasa baik-baik saja meski yang terjadi malah sebaliknya.

Hidup adalah perjalanan untuk pulang

Setiap insan punya porsi hidup masing-masing untuk diperjuangkan. Tak jarang masalah datang menuntut untuk diselesaikan. Beruntung kamu yang saat ini masih berjaya di atas roda kehidupan, tidak perlu payah berfikir esok kan jadi seperti apa.

Tapi kau harus tahu, akan datang suatu masa saat roda kehidupan berputar ke bawah, akan datang saat berbagai macam cobaan serta rintangan menggerus kehidupan. Kau akan berpijak pada kerikil, beralas batu dan tergerus lumpur. Setidaknya kau akan dapat pelajaran bahwa langit tak selamanya berhias pelangi.

Kau dituntut agar mampu berpijak dengan kakimu sendiri, berjuang seorang diri, bertahan di atas lika-liku tadi. Belajar berjalan sendiri, bukan berarti hidup sendiri tanpa siapapun di sisi. Namun, kau harus belajar hidup mandiri, tidak bergantung uluran tangan orang lain.

Sesulit apapun jalan yang kau lalui hari ini, sesukar apapun tebing yang kau daki saat ini. Masih banyak mereka di luar sana yang sedang berusaha keras untuk berdiri. Namun mereka tetap tegar melangkah berlalu pergi

Menuju jalan pulang yang abadi.

Lalat dan Lebah

Pernahkah kamu mengamati lalat?
Bagaimana tingkah lakunya, kebiasaan-kebiasaannya. Lalat hanya bisa melihat sesuatu yang buruk dan busuk saja, yang baik dan wangi adalah musuh utamanya. Bangkai, sampah, kotoran adalah tempat tinggal favorit mereka.

Saat lalat hinggap pada makanan, dia akan meninggalkan najis serta penyakit pada makanan tersebut. Jika kita makan makanan yang sudah dihinggapi lalat kita bisa terserang penyakit.

Hal di atas juga berlaku saat kita suka melihat hal-hal yang buruk, perilaku yang menyertai pun akan buruk, dan akan menghasilkan output yang buruk pula.

Coba bandingkan dengan lebah, kamu tahu lebah? Lebah cuma melihat dan memilih sesuatu yang baik. Walaupun terkadang ia melewati tempat sampah dia tetap mencari bunga yang cantik.

Saat lebah hinggap pada sebuah bunga, ia akan mencari sari dari bunga tersebut berupa nektar untuk kemudian diolah menjadi madu. Madu yang dihasilkan lebah merupakan obat dari segala penyakit, karena dia pandai memilih hal-hal yang baik.

Pun berlaku pada kita, jika kita berfikir positif, mengambil hal-hal yang positif, maka hasil yang diperoleh pun juga positif.

Kebiasaan-kebiasaan dan lingkungan adalah faktor utama pembentuk output diri kita. Teruslah berbuat baik dan berada pada lingkungan yang baik agar hasil output pun juga akan baik.